MOSES MIRACLE : Laut Terbelah Seperti Terjadi Saat Dilakukan Nabi Musa AS

11 04 2010

Ini adalah fenomena alam yang paling mengagumkam di Korea Selatan yang dinamai “Moses Miracle”, dua kali setahun terjadi air surut, terbuka

suatu alur daratan sepanjang 2.8 kilometer dan lebar 40 meter yang menghubungkan pulau Jindo dan Modo selama beberapa jam.

Suatu festival diadakan untuk mengingatkan kejadian alam dan dihadiri orang-orang dari segala penjuru dunia ini. Bagaimanapun kejadian alam
ini belum begitu diketahui sampai tahun 1975, ketika Mr. Pierre Randi duta besar Perancis untuk negara Korea berkunjung kemari dan
mempublikasikannya di surat kabar Perancis.



Kisah Keajaiban Terbelahnya Laut Oleh Nabi Musa

Bani Isra’il yang cukup menderita akibat tindasan Fir’aun dan kaumnya cukup merasakan penganiayaan dan hidup dalam ketakutan di bawah pemerintahan Fir’aun yang kejam dan bengis itu, pada akhirnya sadar bahwa Musalah yang benar-benar dikirimkan oleh Allah untuk membebaskan mereka dari cengkaman Fir’aun dan kaumnya. Maka berduyun-duyunlah mereka datang kepada Nabi Musa memohon pertolongannya agar mengeluarkan mereka dari Mesir. Kemudian bertolaklah rombongan kaum Bani Isra’il di bawah pimpinan Nabi Musa meninggalkan Mesir menuju Baitul Maqdis. Dengan berjalan kaki dengan cepat karena takut tertangkap oleh Fir’aun dan bala tentaranya yang mengejar mereka dari belakang akhirnya tibalah mereka pada waktu fajar di tepi lautan merah setelah selama semalam suntuk dapat melewati padang pasir yang luas.

Rasa cemas dan takut makin mencekam hati para pengikut Nabi Musa dan Bani Isra’il ketika melihat laut terbentang di depan mereka sedang dari belakang mereka dikejar oleh Fir’aun dan bala tentaranya yang akan berusaha mengembalikan mereka ke Mesir. Mereka tidak meragukan lagi bahwa bila mereka tertangkap, maka hukuman matilah yang akan mereka terima dari Fir’aun yang zalim itu. Berkatalah salah seorang dari sahabat Nabi Musa, bernama Yusha’ bin Nun: “Wahai Musa, ke mana kami harus pergi?” Musuh berada di belakang kami sedang mengejar dan laut berada di depan kami yang tidak dapat dilintasi tanpa sampan. Apa yang harus kami perbuat untuk menyelamatkan diri dari kejaran Fir’aun dan kaumnya?”

Nabi Musa menjawab: “Janganlah kamu khawatir dan cemas, perjalanan kami telah diperintahkan oleh Allah kepadaku, dan Dialah yang akan memberi jalan keluar serta menyelamatkan kami dari cengkaman musuh yang zalim itu.” Pada saat yang kritis itu, di mana para pengikut Nabi Musa berdebar-debar ketakutan, seraya menanti tindakan Nabi Musa yang kelihatan tenang saja, turunlah wahyu Allah kepada Nabi-Nya dengan perintah agar memukulkan air laut dengan tongkatnya. Maka dengan izin Allah terbelah laut itu, tiap-tiap belahan merupakan separti gunung yang besar. Di antara kedua belahan air laut itu terbentang dasar laut yang sudah mengering yang segera di bawah pimpinan Nabi Musa dilewatilah oleh kaum Bani Isra’il menuju ke tepi timurnya.

Setelah mereka sudah berada di bahagian tepi timur dalam keadaan selamat terlihatlah oleh mereka Fir’aun dan bala tentaranya menyusuri jalan yang sudah terbuka di antara dua belah gunung air itu. Kembali rasa cemas dan takut mengganggu hati mereka seraya memandang kepada Nabi Musa seolah-olah bertanya apa yang hendak dia lakukan selanjutnya. Dalam pada itu Nabi Musa telah diilhamkan oleh Allah agar bertenang menanti Fir’aun dan bala tentaranya turun semua ke dasar laut. Karena takdir Allah tela mendahului bahwa mereka akan menjadi bala tentara yang tenggelam.

Berkatalah Fir’aun kepada kaumnya tatkala melihat jalan terbuka bagi mereka di antara dua belah gunung air itu: “Lihat bagaimana lautan terbelah menjadi dua, memberi jalan kepada kami untuk mengejar orang-orang yang melarikan diri itu. Mereka mengira bahwa mereka akan dapat melepaskan dari kejaran dan hukumanku. Mereka tidak mengetahui bahwa perintahku berlaku dan ditaati oleh laut, jangan lagi oleh manusia. Tidakkah ini semuanya membuktikan bahwa aku adalah yang berkuasa yang harus disembah olehmu?” Maka dengan rasa bangga dan sikap sombongnya turunlah Fir’aun dan bala tentaranya ke dasar laut yang sudah mengering itu melakukan gerak-cepatnya untuk menyusul Musa dan Bani Isra’il yang sudah berada di tepi bahagian timur sambil menanti hukuman Allah yang telah ditakdirkan terhamba-hamba-Nya yang kafir itu.

Demikianlah maka setelah Fir’aun dan bala tentaranya berada di tengah-tengah lautan yang membelah itu, jauh dari ke dua tepinya, tibalah perintah Allah dan kembalilah air yang menggunung itu menutupi jalur jalan yang terbuka di mana Fir’aun dengan sombongnya sedang memimpin barisan tentaranya mengejar Musa dan Bani Isra’il. Terpendamlah mereka hidup-hidup di dalam perut laut dan berakhirlah riwayat hidup Fir’aun dan kaumnya untuk menjadi kenangan sejarah bagi generasi akan datang.

Pada detik-detik akhir hayatnya, seraya berjuang untuk menyelamatkan diri dari maut yang sudah berada di depan matanya, berkatalah Fir’aun: “Aku percaya bahwa tiada tuhan selain Tuhan Musa dan Tuhan Bani Isra’il. Aku beriman pada Tuhan mereka dan berserah diri kepada-Nya sebagai salah seorang muslim.”

Berfirmanlah Allah kepada Fir’aun yang sedang menghadapi sakaratul-maut: “Baru sekarangkah engkau berkata beriman kepada Musa dan berserah diri kepada-Ku? Tidakkah kekuasaan ketuhananmu dapat menyelamatkan engkau dari maut? Baru sekarangkah engkau sadar dan percaya setelah sepanjang hidupmu bermaksiat, melakukan penindasan dan kezaliman terhadap hamba-hamba-Ku dan berbuat-sewenang-wenang, merusak akhlak dan aqidah manusia-manusia yang berada di bawah kekuasaanmu. Terimalah sekarang pembalasan-Ku yang akan menjadi pengajaran bagi orang-orang yang akan datang sesudahmu. Akan Aku apungkan tubuh kasarmu untuk menjadi peringatan bagi orang-orang yang meragukan akan kekuasaan-Ku.”

Bani Isra’il pengikut-pengikut Nabi Musa masih meragukan kematian Fir’aun. Mereka masih terpengaruh dengan kenyataan yang ditanamkan oleh Fir’aun semasa ia berkuasa sebagai raja bahwa dia adalah manusia luar biasa lain dari yang lain dan bahwa dia akan hidup kekal sebagai tuhan dan tidak akan mati. Khayalan yang masih melekat pada fikiran mereka menjadikan mereka tidak mau percaya bahwa dengan tenggelamnya, Fir’aun sudah mati. Mereka menyatakan kepada Musa bahwa Fir’aun mungkin masih hidup namun di alam lain.

Nabi Musa berusaha menyakinkan kaumnya bahwa apa yang terfikir oleh mereka tentang Fir’aun adalah suatu khayalan belaka dan bahwa Fir’aun sebagai orang biasa telah mati tenggelam akibat pembalasan Allah atas perbuatannya, menentang kekuasaan Allah mendustakan Nabi Musa dan menindaskan serta memperhambakan Bani Isra’il. Dan setelah melihat dengan mata kepala sendiri, tubuh-tubuh Firaun dan orang-orangnya terapung-apung di permukaan air, hilanglah segala tahayul mereka tentang Fir’aun dan kesaktiannya.

Menurut catatan sejarah, bahwa mayat Fir’aun yang terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir, lalu diawet hingga utuh sampai sekarang, sebagai mana dapat dilihat di musium Mesir.

Tentang isi cerita yang terurai di atas dapat di baca dalam surah “Thaha” ayat 77 sehingga 79 ; surah “Asy-Syua’ra” ayat 60 sehingga 68 ; surah “Yunus” ayat 90 sehingga 92 sebagaimana berikut : “77 Dan sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Isra’il) di malam hari, maka buatklah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tidak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam).” 78 Maka Fir’aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka. 79 Dan Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi peetunjuk.” ( Thaha : 77 79 )

“60 Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. 61 Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku. 63 Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan itu adalah separti golongan yang lain. 65 Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersertanya semuanya. 66 Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. 67 Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan kebanyakkan mereka tidak beriman. 68 Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Mulia Perkasa lai Maha Penyayang.” ( Asy-Syu’ara : 60 68 )

“90 Dan Kami memungkinkan Bani Isra’il melintasi lau, lalu mereka diikiti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka) hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Isra’il dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” 91 Apakah sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. 92 Maka pada hari ini Kami akan selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pengajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakkan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” ( Yunus : 90 92 )

Terbelahnya Laut oleh Nabi Musa AS: Fenomena Alam atau Keajaiban?

Lalu Fir’aun dan balatentaranya dapat menyusul mereka pada waktu matahari terbit. Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, “kita akan benar-benar tersusul”. Musa menjawab, “sekali-kali tidak akan tersusul”. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Lalu kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya. Kemudian kami tenggelamkan golongan yang lain. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda kebesaran Allah, tetapi kebanyakan tidak beriman. (Asy-Syu’ara: 60-67)

Bertepatan dengan tanggal 10 Muharram (umat islam dsunahkan melalukan shaum,dgn ganjarannya dihapuskan dosa slm 1 thn penuh sbgaimana hdts shahih rwyt bukhari-muslim). Momen penting yang selalu diperingati oleh ummat Islam sebagai Hari Asyura yang dipercayai sebagai momen pada saat mukjizat (miracle) diberikan Allah SWT kepada rasul-rasul. Salah satunya adalah hari pada saat Nabi Musa AS dan kaum Bani Israil meloloskan diri dari kejaran balatentara Fir’aun melalui sebuah peristiwa yang menakjubkan yakni jalur pelarian Nabi Musa AS dan kaumnya di sekitar Laut Merah terbelah dan memungkinkan untuk disebrangi guna menuju ke The Promised Land. Kaum Yahudi memperingati The Exodus sebagai Passingover.

Peristiwa terbelahnya Laut Merah merupakan peristiwa yang luar biasa. Hal ini merupakan mukjizat dari Nabi Musa AS yang wajib kita percayai sebagai bagian dari iman. Namun, peristiwa mukjizat tersebut juga dapat dipahami dan dijelaskan dari perspekstif sains. Hipotesis yang bisa dijadikan dasar adalah bahwa segala peristiwa yang Allah SWT berikan kemuliaan (miracle) sebenarnya tidak akan pernah lepas dari proses alam yang mahakompleks sebagai bagian dari sunnatullah. Ketika itu terjadi, peristiwanya bisa dijelaskan dalam berbagai teori ilmiah, namun momentum dan tempat terjadinya merupakan mukjizat yang Allah SWT sendiri berikan khusus bagi hamba yang dikehendaki-Nya.

Berikut akan dipaparkan berbagai teori ilmiah mengapa laut bisa terbelah pada saat Nabi Musa AS dan Kaum Israil menyebranginya.

Modeling of the Hydrodynamic Situation During the Exodus
Dengan menggunakan persamaan differential matematika, dua peneliti Rusia berupaya membuat pemodelan tentang kondisi ketika gelombang laut terpisah (Stolyarova, 2004). Naum Volzinger dan Alexei Androsov, mendasarkan pemodelan mereka dengan keterangan-keterangan di Kitab Old Testament dan Torah, termasuk keterangan bahwa pada saat itu terdapat gugusan karang yang jaraknya dekat dengan permukaan laut.

Dalam pemodelan hidrodinamik, diadakan simulasi berapa kecepatan angin yang diperlukan dan kekuatan badai yang dibutuhkan agar gugusan karang tersebut kering pada saat laut surut. Selain itu, juga disimulasikan berapa lama gugusan karang akan kering dan kapan air laut akan kembali menutupinya (Volzinger and Androsov,2002).

Hasilnya adalah jika angin timur bertiup sepanjang malam dengan kecepatan 30 meter per detik, maka gugusan karang akan kering. Dengan keadaan ini, untuk menyebrangi 7 km gugusan karang, Kaum Israil yang sebanyak 600.000 orang membutuhkan waktu 4 jam. Air laut kembali menutupi gugusan karang setelah 4,5 jam. Ini berarti durasi selama 4,5 jam gugusan karang masih kering.

Dari hasil pemodelan Volzinger dan Androsov, diketahui bahwa dibutuhkan angin berkecepatan 30 m per detik agar gugusan karang menjadi kering dan bisa disebrangi. Kecepatan 30 m per detik berarti 108 km/jam. Dalam skala Beaufort, kecepatan angin 108 km/jan sudah dapat dimasukkan dalam kategori Storm yang minimal mencapai skala 10 dengan kecepatan diatas 89 km/jam dengan durasi 12 hingga 1200 jam. Kecepatan 108 km/jam ini masih di bawah kecepatan minimal ” Tropical Cyclone (Hurrycane)” yang mencapai 118 km/jam dan “Tornado” (177 km/jam).

Penelitian Volzinger dan Androsov (2002) menyatakan terbelahnya laut Merah ketika Nabi Musa AS bereksodus dimungkinkan, setelah memprediksi karakteristik hidrodinamika dan berdasarkan pemodelan numerik berbasis persamaan differential matematika. Namun, pertanyaan yang bisa dikemukakan dalam hal ini adalah apakah peristiwa Laut Merah terbelah bisa terulang. Volzinger dan Androsov menyatakan bahwa gugusan karang laut yang ada telah bergeser jauh dari permukaan laut. Jadi tidak lagi memungkinkan (Stolyarova, 2004).

Akan tetapi, penelitian Volzinger dan Androsov masih berbasis simulasi komputer, dan belum dijabarkan dalam studi kasus, atau dalam eksperimentasi laboratorium. Selain itu, Volzinger dan Androsov (2002) tidak menejalskan berapa ketinggian gelombang yang terjadi akibat hembusan angin 108 km/jam. Padahal, dalam Qur’an disebutkan bahwa ketika laut itu terpisah, terjadi dinding gelombang setinggi bukit (Asy-Syuara:65).

Patut dicatat, mengenai gugusan karang lokasi penyebarangan Nabi Musa AS juga perlu dipertanyakan. Hingga kini, lokasi dimana Nabi Musa AS menyeberangi laut Merah juga masih dalam perdebatan para arkeolog, ini akan dijelaskan pada bagian berikutnya. Pertanyaan lain yang bisa dikemukakan adalah apakah angin 108 km/jam memungkinkan manusia untuk berlari sejauh 7 km. Dan apakah dalam beberapa dokumen sejarah, memang terjadi angin sekuat itu? Dalam kitab Eksodus, dikatakan pada saat itu terjadi kolom-kolom awan dan kilat. Apakah ini memiliki kemiripan dengan tanda-tanda storm (badai)?

Lokasi terjadinya pelarian Nabi Musa AS ketika eksodus dapat ditemui dari Kitab Exodus 14:2, yakni tempat sebelum Pi-Hahiroth (antara Migdol dan laut) dan diseberangnya adalah Baal-zephon. Tiga tempat ini belum diketahui secara pasti. Namun banyak yang percaya bahwa tempat itu berada disekitar Reed Sea (bukan Red Sea) dekat Kota Suez sekarang, sebelah utara Teluk Aqaba.

Beberapa teori yang mengatakan bahwa tempat tersebut ada di sekitar Sabhat al Bardawil (sebuah lagoon di utara Semenanjung Sinai). Lokasi ini ada dalam Peta (Gambar-1) di bawah yang menunjukkan gap sempit antara pantai Mesir dan Arab Saudi di sekita Teluk Aqaba yang diyakini merupakan crossing place Nabi Musa AS. Hal ini diperkuat dari morfologi 3D dasar lautan disekitar Teluk Aqaba dimana terdapat dataran yang relatif lebih dangkal (Gambar-2 dan 3) dibandingan pada daerah yang lain yang lebih curam dan dalam. Jika ini ada kemiripan dengan apa yang dimaksud dalam Kitab Taurat dan asumsi Nauman dan Andorsov (2002) sebagai daerah karang yang dangkal.

Selain itu di lokasi itu pernah ditemukan juga fakta arkeologi berupa roda Chariot (kendaraan Perang semasa Fir’aun) oleh Ron Wyatt dan Jonathan Gray (Kovacs,2003). Meskipun masih disangsikan oleh Richard Rives Roda ini sempat diukur usianya melalui radiasi karbon. Nassif Mohammed Hassan menyatakan roda tersebut berasal dari dinasti ke-18 Kerajaan Mesir Kuno, atau dengan kata lain roda ini pernah digunakan sekitar 1400 SM. Sayangnya, keberadaan roda ini hanya diketahui sekitar tahun 1970-an. Hingga kini upaya untuk menemukan lokasi yang tepatnya tidak dilaksanakan (Kovacs,2003).

Lokasi crossing Musa AS di sekitar Teluk Aqaba juga dibenarkan oleh Colin Humpreys (2003). Selian Teluk Aqaba, Humpreys juga menyakini bahwa tempat Nabi Musa AS menerima Ten Commandments berada di Mount Sinai yang sekarang disebut Jabal El Musa, di daerah Arab Saudi sekarang. Lennart Moller dari Karolinska Institute in Stocholm juga mendukung pendapat Humpreys, namun dia tidak sependapat dengan Teori angin yang bisa membelah lautan.

Mengenai angin yang kuat, ternyata dapat diperoleh keterangan dari Kitab Perjanjian lama Exodus 14:21, dan dari tradisi Yahudi The Song of the Sea dalam memperingati the Passingover tentang angin dari timur yang bertiup kencang untuk membelah lautan ketika Exodus terjadi.

Volcanic Eruption Santorini dan Tsunami
Teori yang kedua adalah adanya letusan vulkanik Thera yang dahsyat di daerah Santorini, sebuah kepulauan Yunani, 500 mil utara Delta Sungai Nil. Letusan terjadi diperkirakan pada 1600 SM, terbesar dalam sejarah. Effek dari letusan vulkanik Santorini dapat dirasakan hingga ke sungai Nil, menimbulkan “the 10 plagues” (wabah penyakit di Mesir), kegagalan panen di Cina, dan konon menenggelamkan kota legenda “Atlantis” (La Moreaux, 1995; Foster et.al, 1996, Davis, 1990, BBC On-Line, 2007).

Dalam simulasi komputer, diestimasi bahwa letusan Thera telah meng-kolapskan kepulauan Santorini dan telah menjadi trigger bagi terjadinya mega-tsunami berupa gelombang setinggi 600 feet atau sekitar 200 meter, bergerak dengan kecepatan 400 mil per jam ( Moses, BBC One,2002). Floyd Mc Coy, ahli tsunami, mengatakan bahwa tsunami ini telah yang menyebabkan kehancuran dasar laut Mediterrania dan menyebabkan sedimentasi. Simulasi komputer melacak bahwa penyebaran sedimen menjadi bukti bahwa gelombang tsunami Santorini telah mencapai delta Sungai Nil.

Pertanyaanya adalah dapatkah tsunami membelah the Reed Sea (bukan Laut Merah yang banyak diyakini orang, berada di sekitar Kota Suez Mesir)? Floyd McCOy menyatakan bahwa sebuah mega tsunami ini bisa jadi menyebabkan lautan mengering karena dari prosesnya, mega tsunami akan menyerap trilyunan gallon air dari pesisir pantai, sungai dan danau. Sebagai akibat, terjadilah pengeringan laut di sekitar pesisir selama 2 jam. Temuan ini tidaklah jauh berbeda dari kasus Tsunami di Mindoro Filipina tahun 1994. Ketika itu, di Mindoro, terjadi Gempa bumi yang menciptakan retakan yang sangat besar di dasar danau Mindoro sepanjang kira-kira 1 mil. Air di danau kemudia terhisap ke dalam retakan tersebut sehingga danau itu pun menjad kering. Seorang saksi mata menyatakan ia dapat berjalan di atasnya. Beberapa waktu kemudian, tsunami datang dan menyapu sebuah perahu-perahu yang totalnya berbobot kira-kira 6000 ton. Kekuatan tsunami Mindoro sangat jauh di bawah tsunami Santorini (Moses, BBC One, 2002), sehingga dapatlah dibayangkan berapa kekuatan Mega Tsunami Santoro. Keyakinan McCOy juga serupa dengan Professor Costas Synolakis, seorang ahli tsunami.

Pertanyaan selanjutnya, apakah benar tsunami Santorini benar-benar se-momen dengan Nabi Musa membelah lautan? Cameron dan Simcha Jacobovici, produser film dari Kanada mengklaim bahwa letusan Thera benar-benar terjadi persis ketika Musa AS membelah laut Reed. Mereka percaya bahwa letusan ini juga menjadi penyebab dari The 10 Plagues sebagaimana di nukilkan di Bible.

Mengenai The 10 plagues,seorang Epidemiologist, Dr. John Marr percaya bahwa letusan Thera lah yang menjadi penyebabnya berdasarkan kasus serupa ketika St Helena meletus pada 17 Mei 1980 (BBC One, 2002). Menurutnya, debu vulkanik bisa menjadi penyebab berbiaknya jamur beracun di Sungai Nil. Daniel Stanley, seorang oceanographer, melakukan pengeboran sampel di delta Sungai Nil. Ia mendapatkan debut-debu vulkanik berkaitan dengan letusan. Mike Rampino, seorang ilmuwan dari New York University membuat simulasi komputer untuk melihat bagaimana efek dari Letusan Thera. Didapatkan bahwa telah terjadi perubahan cuaca yang signifkan, temperatur turun sekitar 2o celcius. Curah hujan berkurang. Proses ini menjadi mata rantai dari turun drastinya ekologi sungai Nil ketika itu dan tentunya bisa jadi akan menimbulkan wabah penyakit.

Selain the Plagues, dari Bible diceritakan bahwa ketika Musa AS memimpin eksodus, Tuhan mengarahkankannya dari asap di waktu siang dan api di waktu malam. Menurut beberapa ilmuwan, ini bisa diperkirakan sabagai kolom asap dan kilat dari letusan Thera.

Namun dari hasil radio karbon pengukuran letusan Thera, dipastikan letusan terjadi sekitar 1600 SM, berbeda 150 tahun dari perisitiwa Exodus Nabi Musa AS yang diperkirakan sekitar 1450 SM (Bennet, 1963). Kesimpulan ini juga didukung oleh La Moreaux (1995), dan Phillips, G (2003). Selain itu, dari kronologi peristiwa, jelas ada kerancuan antara kapan terjadinya the Plagues, Letusan Thera, dan the Exodus.

Terbelahnya lautan dalam proses kejadian Nabi Musa AS memimpin eksodus kaum Israil dari kejaran balatentara Fir’aun dapat dijelaskan melalui sains, paling tidak sebagai pendekatan untuk memahami bagaimana Allah SWT tetap menjaga mahakompleksnya alam semesta dan memberikan keistimewaan kepada hamba yang dikehendakinya. Harun Yahya mengatakan bahwa Jika Allah SWT menghendaki, keajaiban bisa saja terjadi jika kondisinya memungkinkan yang dalam kasus Nabi Musa AS, dimana kecepatan angin, waktu dan tempat mendukung proses terjadinya. Keajaiban dalam peristiwa ini adalah kejadian laut mengering tepat terjadi ketika Nabi Musa AS dikejar-kejar Fir’aun. Ketika itu, pengikut Nabi Musa sudah yakin mereka akan dapat terkejar, kemudian Nabi Musa AS menjawab “Tidak, Allah bersama kita dan akan meberi petunjuk bagi kita (Asy-Syuara : 61-62). Keajaiban kedua adalah proses terbelahnya laut ketika Nabi Musa AS melakukan eksodus tidak akan mungkin terulang. Manusia hanya bisa menjelaskannya dari sebuah simulasi computer, sebuah generalisasi berbasis asumsi yang masih merupakan pendekatan. Beberapa hasil penelitian metode numeric mereka sebaiknya dapat ditindak lanjuti dengan penelitian secara empirical method, atau melalui eksperimentasi di laboratorium, kiranya mungkin menjadi rekomendasi untuk penelusuran lebih lanjut.

Sumber: http://korananakindonesia.wordpress.com


Actions

Information

3 responses

15 10 2010
Rove Roinette

Wah,beneran terjadi nih,?Aku sih percaya atau enggak ya?Kebanyakan komentar-komintir aku sih,di google Internet itu banyak gambar yang tidak terjadi,tapi banyak orang yang mempercayainya.Itu disebut Musyrik.!

30 10 2010
ririe

wihwihwihwih…..
panjang giiiillllleeeeeeeee,,,,,,
ampe puyeng euyyyyy

23 11 2010
pane

gile……..gua nonton kemarin ne

beneran terjadi…BUSET…

tiada yang bisa mengalahkan kajaibn ALAM…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: